Sunday, December 30, 2007

a father's in silence

Wajah ayahku.setelah beberapa tahun berlalu br hr ini lagi aku berada begitu dekat dgn nya. Kuperhatikan wajahnya, tak banyak berubah. Ia masih seperti dulu. Terlihat tampan dan tegas! Beriring waktu dan perjalanan hidup samar kerut mulai hiasi wajahnya. Bola mata hitam yg memancarkan ketegasan mulai memudar berwarna keabuan. Mungkin ia bahkan tak mampu lagi melihat semua dengan jelas. Tegap badannya kini mulai menyusut berteman dengan penyakit yg datang bagi setiap orang seusianya tapi tak pernah sedikit pun ia berkesah. Ia tetap tegap berdiri lindungi keluarganya. Satu dua khilafnya begitu jelas kuingat...mulai dari penipuan terhadap ibu,kurang tanggung jawab sampai perselingkuhannya di kala jaya. Tapi ketika kulihat wajahnya hari ini terpancar sesal yg memilukan hati... Ia keras berusaha untuk perbaiki khilaf yg mestinya kumaafkan, ia keras berfikir tuk terus buat aku bahagia dan lindungi aku walau aku bukan lagi anak yg bisa ia timang dgn ke2 tangannya. Hari ini seperti ada jarum menusuk hati ku ketikaKu lihat wajah ayahku... Ayah maafkan aku karena selama ini buta dan tak mampu kulihat betapa sesalmu menghantui dan besarnya sayangmu pada ku, pada kami. Aku sayang pada mu ayah.